Logo SantriDigital

Inpirasi Qurban dan semangat santri

Khutbah Jumat
H
Hasbullah Ahmad
8 Mei 2026 3 menit baca 2 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ....

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، خَالِقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْمُتَّقِيْنَ وَإِمَامُ الْمُرْسَلِيْنَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Di atas mimbar yang penuh berkah ini, hati ini terasa berat, air mata ini nyaris tertumpah saat merenungi makna pengorbanan agung, esensi Idul Adha yang kian mendekat. Perayaan kurban bukanlah sekadar ritual penyembelihan binatang, ia adalah jeda jiwa untuk mengingat kembali ketundukan Nabi Ibrahim Alaihissalam kepada perintah Rabbnya, sebuah penyerahan diri total yang bahkan rela mengorbankan buah hatinya, Ismail Alaihissalam. Bayangkan betapa pedihnya hati seorang ayah saat harus menjalankan titah ilahi yang perintahnya mengiris rasa sayang. Namun, tiada keraguan di dadanya, tak ada bantahan terucap dari lisannya. "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Ash-Shaffat: 100). Doa yang tulus telah terpanjat, dan ketika anugerah itu datang, ujian yang lebih berat justru menyapa. Namun, iman beliau teguh, tak tergoyahkan oleh lautan cinta kepada putra tercinta. Justru cinta itulah yang diuji, cinta yang harus tunduk pada cinta yang lebih hakiki, cinta kepada Allah Sang Pencipta. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Perjuangan kaum santri di pondok pesantren, bukankah itu secuil potret pengorbanan yang sama? Dengan segala kesederhanaan, jauh dari dekapan hangat keluarga, mereka berjuang menuntut ilmu, mengasah jiwa, dan memperdalam pemahaman agama. Di gubuk-gubuk sederhana, di tengah keterbatasan, semangat mereka membara untuk meraih cahaya ilmu, demi menggapai ridha Ilahi. Mereka berkorban waktu, tenaga, bahkan kadang harta benda demi masa depan yang lebih baik, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk ummat dan agama ini. Pernahkah kita merenungi tatapan mata para santri saat mereka memohon doa dari guru-gurunya? Ada kerinduan mendalam akan kampung halaman, namun ada pula tekad baja untuk tidak pulang sebelum ilmu didapatkan. Ada pengorbanan lelahnya menghafal hingga larut malam, ada pengorbanan perut yang seringkali hanya terisi secukupnya, namun semua itu mereka tatap dengan penuh harapan. Harapan yang sama seperti Nabi Ibrahim Alaihissalam, harapan akan rahmat Allah, harapan akan pengampunan-Nya, dan harapan akan surga-Nya. Allah Ta'ala berfirman, mengingatkan kita akan hakikat pengorbanan: لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ "Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan pernah sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Allah menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37). Betapa sering kita terlena dalam buaian dunia, lupa akan hakikat pengorbanan yang sebenarnya. Kita lebih sibuk memupuk harta, mengejar dunia fana, sementara jiwa kita kering kerontang dari spirit pengorbanan. Lihatlah para santri, mereka adalah lentera masa depan yang menerangi jalan kita. Semangat mereka adalah api yang seharusnya menyala di dada kita. Mereka mengajarkan bahwa ketulusan dan pengorbanan tanpa pamrih adalah jalan menuju keridhaan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita tatap kembali Idul Adha ini dengan hati yang meresapi. Mari kita hadirkan semangat pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam setiap lini kehidupan kita. Mari kita dukung para santri, para pewaris ilmu-ilmu para nabi, agar mereka senantiasa tegar dalam perjuangan mereka. Jangan biarkan air mata kerinduan para santri menjadi saksi bisu atas kelalaian kita. Jangan biarkan pengorbanan suci itu lewat begitu saja tanpa bekas di hati kita. Terasa hati ini pilu, membayangkan betapa kecilnya pengorbanan kita dibanding penderitaan dan perjuangan para kekasih Allah. Sungguh, betapa lemahnya iman kita tatkala menghadapi ujian sekecil apa pun. Wahai diri, wahai jiwa, bangkitlah! Bangkit dari kelalaian, bangkit dari kemalasan. Tumbuhkan kembali spirit qurban dalam diri, quel'a adalah penyerahan diri total kepada Allah. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →